slide

Gita Cinta dari SMA

Novel : Eddy D Iskandar

Galih melihat jam tangannya. Ia tersentak, karena jarum itu menunjukkan angka tiga!

"Nana... Sudah hampir subuh." "Mengapa waktu berlalu begitu cepat?
Kalau saja tak ada hari esok."
"Kita akan terus begini?"
"Ya."
"Berpelukan?"
"Ya."
"Berciuman?"
"Ya."
Galih tersenyum. Ratna tersenyum. Namun hanya sekejap. Wajah keduanya kern-ball sendu.
"Kembalilah Nana... nanti orang tuamu bangun."
"Kita berpisah sekarang, Galih?"
"Ya."
"Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Entahlah... Sepuluh tahun... dua puluh tahun... Atau sampai kita menjadi kakekkakek dan nenek-nenek."
"Oh!"
"Lusa, mungkin aku tak bisa mengantarkanmu."
"Mengapa, Galih?"
"Orang tuamu bagaimana? Mereka pasti takkan senang melihatku."
"Ayahku kejam."
"Biarlah, aku akan berdiri di gardu yang tak jauh dari rel kereta api, dekat setopan. Nanti aku akan melambaikan tangan, mengucap selamat jalan."
"Galih..."
"Lihatlah dari dalam kereta api, kemudian lambaikan tanganmu," kata Galih sambil mendekap Ratna lebih erat. Kemudian mengecup bibirnya.
"Kembalilah, Nana...waktu kita semakin sempit."
"Galih..." Ratna mengecup bibir Galih. Kemudian merenggang. Galih menatapnya terharu.
"Selamat tinggal, Galih... jagalah dirimu baik-baik..." sendat Ratna.

Galih menganggukkan kepala. Ratna segera membalikkan badan, berlari meninggalkan Galih. Ketika Ratna mulai meloncat ke dalam rumah, Galih masih terpaku menatapnya. Ratna tidak segera menutup jendela, ia malah menatap ke arah Galih. Dan Galih dengan jelas dapat menatap wajah Ratna yang diterangi listrik. Wajah cantik yang dibasahi air mata. Tatkala jendela sudah tertutup, sejuta duka menancap di hati Galih. Dengan lesu Galih berjalan meninggalkan tempat tersebut.

PAGI itu Galih berdiri di gardu, matanya menatap ke arah stasiun. Terdengar peluit berbunyi panjang, diiringi lengkingan suara kereta api. Perlahan kereta api bergerak meninggalkan stasiun. Suaranya gemuruh bagai gemuruhnya perasaan Galih. Makin dekat ke arah Galih, hati Galih makin berdebar. Ketika kereta api sudah lewat di hadapannya, Galih mencari-cari lambaian tangan Ratna. Tapi tak ada!

Sementara itu dari dalam kereta api, Ratna melambaikan tangan. Betapa tersayat perasaan Ratna, menyaksikan Galih dengan wajah memilukan menatapi satu per satu gerbong kereta api. Ingin rasanya Ratna berteriak sekeras-kerasnya. Galih! Aku ada di sini, Sayang! Kenapa kau tak melihatku? Oh, Tuhan! Kenapa Galih tak melihat lambaian tanganku?

Tak terasa, air mata Ratna berderai. Ratna tak mempedulikan penumpang sekelilingnya.
Galih terus menatap kereta api itu sampai menghilang dari pandangannya. Bening mengembang di kelopak matanya, karena ia tak sempat menatap wajah Ratna. Dengan lunglai ia berjalan meninggalkan gardu itu. Kemudian menyusuri rel kereta api. Sambil berjalan, teringat akan pesan mbak Ning dalam suratnya.
Dik Galih, iringilah kepergian Nana dengan senyuman, walau hatimu tidak demikian.

Galih menghela napas. Langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang. Ke jalan kereta api yang lurus, di mana Ratna telah lenyap. Sunyi itu, kadang-kadang mengerikan. Sepi itu, kadang-kadang melelapkan.

3 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas kunjungannya dan jangan lupa mampir lagi

Pengikut